Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan umum. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Januari 2011
Ditemukan, Planet Terkecil di Luar Tata Surya
( Washington).Para ahli astronomi Amerika Serikat telah menemukan planet terkecil di luar sistem tata surya galaksi Bima Sakti atau "milky way". Sebuah teleskop luar angkasa, Kepler telah dikirim ke antariksa untuk mencari hunian baru di luar angkasa dan menemukan sebuah planet yang ukurannya hampir sebesar bumi. Planet baru itu dinamakan 10-b yang berjarak sejauh 560 tahun cahaya dari bumi.
Planet 10-b berjarak 20 kali lebih dekat kepada bintangnya daripada jarak planet Merkury kepada matahari di galaksi Bima Sakti. Kepadatan planet tersebut lebih tebal 4,5 kali dan lebih besar 1,4 kali daripada planet bumi.
Menurut perhitungan para ahli astronomi 10-b sangat panas dan bersuhu sebesar 1.500 derajat Celsius. Seorang ahli astronomi yang bekerja di Pusat Badan Aeronautika dan Antariksa Nasional (NASA) di Washington, Douglas Hudgins mengatakan bahwa mereka menemukan sebuah planet yang berukuran hampir menyamai bumi.
Dia juga menekankan bahwa penemuan mereka merupakan batu loncatan untuk menemukan sejumlah planet baru yang dapat dihuni.
Sumber :Republika .co.id
Read More..
Label:
Pengetahuan umum
Selasa, 23 November 2010
Hah... Ada Ular Bisa Terbang!
Hah, ada ular yang bisa terbang! Tenang, hanya ular yang termasuk dalam genus Chrysopelea yang bisa terbang, tak semuanya. Ular dalam genus tersebut mampu terbang – atau tepatnya melenting – dengan cara meluncur sambil meliuk dari pohon satu ke pohon lainnya hingga sejauh 79 kaki atau 24 meter. Ditemukan bahwa habitat ular golongan tersebut ada di Asia Tenggara dan Asia selatan.
Bagaimana ular itu bisa terbang? Hal itu diuraikan dalam presentasi penelitian dalam pertemuan American Physical Society Division of Fluid Dynamics kemarin (22/11/10).
“Ular ini tidak sedang melawan gravitasi ketika terbang, juga bukan melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Adalah persoalan gaya yang dikerahkan oleh ular yang menjadi penyebabnya,” kata Jake Socha, pemimpin proyek penelitian ini saat diwawancara Discovery.
Untuk sampai pada kesimpulan itu, Socha bersama rekannya mencoba “meluncurkan” ular jenis tersebut dari gedung berketinggian 49 kaki. Mereka merekam setiap gerakan dari ular tersebut. Kemudian, mereka mengembangkan model matematis yang mengungkapkan cara ular terbang.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diterima oleh Jurnal Bioinspiration & Biomimetics, Socha menjelaskan bahwa ular itu akan mengatur posisi tubuhnya sesaat sebelum terbang dan pada saat terbang.
Sesaat sebelum terbang, ular tersebut akan menjulurkan salah satu ujung badannya ke depan dan membentuk huruf J. Setelah itu, barulah si ular memulai melompat ke depan dan mempercepat gerakannya sehingga bisa terbang.
Ketika si ular terbang, ia akan mengerahkan gaya ke atas dari gerakannya sehingga membuatnya tak langsung jatuh. “Ular tetap terangkat ke atas, walaupun ia bergerak ke bawah. Ini karena gaya yang mengarah ke atas lebih besar dari berat badan ular,” kata Socha. Bagian depan ular akan tampak miring ke atas, kurang lebih 25 derajat, bagian ekornya akan terus bergerak-gerak sementara bagian lain akan membentuk lengkungan naik turun, seperti liukan ular ketika melata di atas tanah.
“Jika ular tetap pada kondisi seperti itu, ia akan terus terbang ke atas. Namun, model terbang ular tersebut ternyata hanya sementara sehingga pada akhirnya ular tetap akan jatuh ke tanah mengakhiri luncurannya,” kata Socha yang merupakan ahli biologi di Virginia Tech.
Menurut Socha, model terbang ular ini bisa menjelaskan cara meluncur beberapa spesies, termasuk mamalia dan ikan. Ke depan, penciptaan kendaraan tak berawak mungkin bisa dilakukan dengan meniru cara terbang luncur ular ini.
Sumber Berita : Klik disini. Read More..
Bagaimana ular itu bisa terbang? Hal itu diuraikan dalam presentasi penelitian dalam pertemuan American Physical Society Division of Fluid Dynamics kemarin (22/11/10).
“Ular ini tidak sedang melawan gravitasi ketika terbang, juga bukan melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Adalah persoalan gaya yang dikerahkan oleh ular yang menjadi penyebabnya,” kata Jake Socha, pemimpin proyek penelitian ini saat diwawancara Discovery.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diterima oleh Jurnal Bioinspiration & Biomimetics, Socha menjelaskan bahwa ular itu akan mengatur posisi tubuhnya sesaat sebelum terbang dan pada saat terbang.
Sesaat sebelum terbang, ular tersebut akan menjulurkan salah satu ujung badannya ke depan dan membentuk huruf J. Setelah itu, barulah si ular memulai melompat ke depan dan mempercepat gerakannya sehingga bisa terbang.
Ketika si ular terbang, ia akan mengerahkan gaya ke atas dari gerakannya sehingga membuatnya tak langsung jatuh. “Ular tetap terangkat ke atas, walaupun ia bergerak ke bawah. Ini karena gaya yang mengarah ke atas lebih besar dari berat badan ular,” kata Socha. Bagian depan ular akan tampak miring ke atas, kurang lebih 25 derajat, bagian ekornya akan terus bergerak-gerak sementara bagian lain akan membentuk lengkungan naik turun, seperti liukan ular ketika melata di atas tanah.
“Jika ular tetap pada kondisi seperti itu, ia akan terus terbang ke atas. Namun, model terbang ular tersebut ternyata hanya sementara sehingga pada akhirnya ular tetap akan jatuh ke tanah mengakhiri luncurannya,” kata Socha yang merupakan ahli biologi di Virginia Tech.
Menurut Socha, model terbang ular ini bisa menjelaskan cara meluncur beberapa spesies, termasuk mamalia dan ikan. Ke depan, penciptaan kendaraan tak berawak mungkin bisa dilakukan dengan meniru cara terbang luncur ular ini.
Sumber Berita : Klik disini. Read More..
Label:
Pengetahuan umum
Minggu, 21 November 2010
Pesona Warna Kawah Kelimutu
Inilah sebuah gunung yang menyimpan misteri sekaligus pesonanya. Gunung Kelimutu terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan puncak berketinggian 1.690 m dari atas permukaan laut, gunung itu memiliki keunikan karena ada tiga buah danau kawah berbeda warna.
Photo credits - Arif Fadillah
Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Tak kurang sudah 12 kali perubahan warna terjadi dalam waktu 25 tahun terakhir ini. Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar danau.
Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Photo credits - Arif Fadillah
Danau atau Tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa orang-orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.
Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu. Bagi penggemar hiking dan menyukai keindahan alam di desa pegunungan tropis, berwisata ke tempat ini merupakan pilihan terbaik. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.
Untuk mencapai Gunung Kelimutu yang pernah meletus di tahun 1886 ini, butuh “perjuangan” tersendiri. Dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur, butuh waktu sekitar 3 jam dengan mobil sewaan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus, berkelak-kelok, melintasi jurang dan tebing. Kita akan menemui kampung terdekat dengan kawah gunung Kelimutu yang bernama Kampung Moni.
Kampung ini terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Dari Moni hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bibir Danau Kelimutu.
Selain dari Maumere, Kelimutu juga dapat dicapai dari Ende menggunakan bus antarkota ataupun kendaraan sewaan, dengan harga dan waktu perjalanan yang relatif tidak jauh berbeda. Dari ibukota Propinsi NTT, yakni Kupang, pengunjung dapat menggunakan pesawat menuju kota Ende, di Pulau Flores, dengan waktu tempuh mencapai 40 menit. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.
Photo credits - Arif Fadillah
Di Kampung Moni banyak dijajakan kain tenun Lio yang menjadi salah satu produk khas lokal disana dan dijual oleh penduduk setempat kepada para wisatawan. Di Kampung Moni pula terdapat penginapan yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk menginap atau beristirahat.
Terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000- Rp 50.000 per malam sedangkan cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000. per malam. Edelweis, Pinus dan Cemara adalah sejumlah tumbuhan yang dapat kita temui saat memasuki kawasan Kelimutu.
Nah, selamat menikmati kawasan kawah danau 3 warna gunung Kelimutu yang eksotis itu!
Sumber : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/16-pesona-warna-kawah-kelimutu?cid=today
Oleh Amril Taufik Gobel Read More..
Photo credits - Arif Fadillah
Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Tak kurang sudah 12 kali perubahan warna terjadi dalam waktu 25 tahun terakhir ini. Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar danau.
Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Photo credits - Arif Fadillah
Danau atau Tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa orang-orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.
Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu. Bagi penggemar hiking dan menyukai keindahan alam di desa pegunungan tropis, berwisata ke tempat ini merupakan pilihan terbaik. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.
Untuk mencapai Gunung Kelimutu yang pernah meletus di tahun 1886 ini, butuh “perjuangan” tersendiri. Dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur, butuh waktu sekitar 3 jam dengan mobil sewaan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus, berkelak-kelok, melintasi jurang dan tebing. Kita akan menemui kampung terdekat dengan kawah gunung Kelimutu yang bernama Kampung Moni.
Kampung ini terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Dari Moni hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bibir Danau Kelimutu.
Selain dari Maumere, Kelimutu juga dapat dicapai dari Ende menggunakan bus antarkota ataupun kendaraan sewaan, dengan harga dan waktu perjalanan yang relatif tidak jauh berbeda. Dari ibukota Propinsi NTT, yakni Kupang, pengunjung dapat menggunakan pesawat menuju kota Ende, di Pulau Flores, dengan waktu tempuh mencapai 40 menit. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.
Photo credits - Arif Fadillah
Di Kampung Moni banyak dijajakan kain tenun Lio yang menjadi salah satu produk khas lokal disana dan dijual oleh penduduk setempat kepada para wisatawan. Di Kampung Moni pula terdapat penginapan yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk menginap atau beristirahat.
Terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000- Rp 50.000 per malam sedangkan cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000. per malam. Edelweis, Pinus dan Cemara adalah sejumlah tumbuhan yang dapat kita temui saat memasuki kawasan Kelimutu.
Nah, selamat menikmati kawasan kawah danau 3 warna gunung Kelimutu yang eksotis itu!
Sumber : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/16-pesona-warna-kawah-kelimutu?cid=today
Oleh Amril Taufik Gobel Read More..
Label:
Pengetahuan umum
Jumat, 19 November 2010
KLH Pantau Kualitas Udara Sekitar Merapi
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menurunkan tim untuk memantau kualitas udara di sekitar kawasan yang terpapar letusan Gunung Merapi.
"Tim KLH sudah bekerja dan dalam waktu dekat akan mengumumkan hasil pemantauan kualitas udara," kata Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH Arief Yuwono di Jakarta, Sabtu.
Hasil pemantauan kualitas udara tersebut masih diteliti. KLH juga mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker karena konsentrasi parameter yang tinggi akan berdampak bagi kesehatan.
KLH juga mendorong penataan ruang rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi merapi yang mempertimbangkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).
Situasi bencana di merapi saat ini rehab rekon belum dapat ditentukan karena status dan masih terjadinya erupsi merapi serta zona bahaya masih berubah-ubah.
Akibat meletusnya gunung Merapi pada 26 Oktober lalu yang memuntahkan 140 juta meter kubik material mengubah rona lingkungan disekitarnya yaitu di Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.
Material Merapi tersebut menutupi sungai sehingga terjadi pendangkalan sehingga perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya banjir jika turun hujan.
"Bahaya lain juga mengintai sebab material yang menutupi sungai sewaktu-waktu bisa terjadi banjir saat hujan turun," katanya.
Di samping itu, saat ini KLH juga sedang menyusun peta kondisi sumberdaya alam, air, tanah untuk menentukan peta kesesuaian lahan.
"Kami juga mengusulkan agara relokasi permukiman perlu dilakukan dengan hati-hati khususnya terkait pemanfaatan sumberdaya alam," tambahnya.
Sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20101120/tpl-klh-pantau-kualitas-udara-sekitar-me-cc08abe.html
"Tim KLH sudah bekerja dan dalam waktu dekat akan mengumumkan hasil pemantauan kualitas udara," kata Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH Arief Yuwono di Jakarta, Sabtu.
Hasil pemantauan kualitas udara tersebut masih diteliti. KLH juga mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker karena konsentrasi parameter yang tinggi akan berdampak bagi kesehatan.
KLH juga mendorong penataan ruang rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi merapi yang mempertimbangkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).
Situasi bencana di merapi saat ini rehab rekon belum dapat ditentukan karena status dan masih terjadinya erupsi merapi serta zona bahaya masih berubah-ubah.
Akibat meletusnya gunung Merapi pada 26 Oktober lalu yang memuntahkan 140 juta meter kubik material mengubah rona lingkungan disekitarnya yaitu di Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.
Material Merapi tersebut menutupi sungai sehingga terjadi pendangkalan sehingga perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya banjir jika turun hujan.
"Bahaya lain juga mengintai sebab material yang menutupi sungai sewaktu-waktu bisa terjadi banjir saat hujan turun," katanya.
Di samping itu, saat ini KLH juga sedang menyusun peta kondisi sumberdaya alam, air, tanah untuk menentukan peta kesesuaian lahan.
"Kami juga mengusulkan agara relokasi permukiman perlu dilakukan dengan hati-hati khususnya terkait pemanfaatan sumberdaya alam," tambahnya.
Sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20101120/tpl-klh-pantau-kualitas-udara-sekitar-me-cc08abe.html
Label:
Pengetahuan umum
Minggu, 14 November 2010
Titik Api Diam Merapi Terekam
Yogyakarta (ANTARA) - Titik api diam di puncak Gunung Merapi semakin sering terekam dalam dua hari terakhir, kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono di Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, titik api diam terekam dari dua kamera CCTV yang dipasang di Pos Pengamatan Deles, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, serta Museum Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Titik api diam tersebut dilaporkan dapat diamati saat cuaca di puncak Merapi cerah, yaitu selama sekitar satu jam pada pukul 03.19 - 04.28 WIB.
Pada Minggu (14/11) titik api diam dapat teramati sepanjang dini hari serta pukul 17.55 hingga pukul 18.00 WIB, dan kamera CCTV dari Deles Klaten kembali merekam adanya titik api diam pada pukul 18.50 WIB.
Selain adanya titik api diam, pengamatan visual dari sejumlah pos pengamatan juga terlihat asap putih keabuan hingga kecoklatan dengan tinggi kolom asap 800 meter yang condong ke barat laut.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, kata dia juga tidak lagi mendengar suara gemuruh, namun hujan abu masih terjadi di Pos Pengamatan Ketep (Jawa Tengah) sekitar pukul 06.58 WIB.
Berdasarkan data pengamatan aktivitas seismik Gunung Merapi pada Senin pagi dilaporkan terjadi empat kali gempa vulkanik, delapan kali guguran dengan gempa tremor secara beruntun, namun tidak disertai luncuran awan panas.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, luncuran awan panas terjauh terjadi di Kali Gendol yaitu mencapai 14 kilometer, Kali Bebeng (11,5 kilometer), dan Kali Boyong (10 kilometer).
Sementara itu, jarak luncur awan panas ke sungai-sungai lainnya antara lima hingga delapan kilometer.
Luncuran awan panas terpendek terjadi di Kali Trising, Kabupaten Magelang (Jateng) sejauh tiga kilometer.
Badan Geologi juga telah mengubah radius rawan bahaya letusan Gunung Merapi untuk tiga kabupaten di Jateng, yaitu Klaten dan Boyolali menjadi 10 kilometer, dan Magelang sejauh 15 kilometer, sebelumnya sejauh 20 kilometer.
Sedangkan untuk Kabupaten Sleman (DIY) tetap dipertahankan pada radius 20 kilometer.
Namun demikian, Badan Geologi masih memberikan catatan bahwa untuk daerah yang berada dalam jarak 300 meter dari bibir Kali Krasak dan Kali Woro, tetap dalam radius 20 kilometer dari puncak Merapi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi telah memasang alat deteksi dini banjir lahar di tiga sungai yang berhulu di Gunung Merapi, yaitu Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong.
Sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20101115/tpl-titik-api-diam-merapi-terekam-cc08abe.html
Menurut dia, titik api diam terekam dari dua kamera CCTV yang dipasang di Pos Pengamatan Deles, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, serta Museum Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Titik api diam tersebut dilaporkan dapat diamati saat cuaca di puncak Merapi cerah, yaitu selama sekitar satu jam pada pukul 03.19 - 04.28 WIB.
Pada Minggu (14/11) titik api diam dapat teramati sepanjang dini hari serta pukul 17.55 hingga pukul 18.00 WIB, dan kamera CCTV dari Deles Klaten kembali merekam adanya titik api diam pada pukul 18.50 WIB.
Selain adanya titik api diam, pengamatan visual dari sejumlah pos pengamatan juga terlihat asap putih keabuan hingga kecoklatan dengan tinggi kolom asap 800 meter yang condong ke barat laut.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, kata dia juga tidak lagi mendengar suara gemuruh, namun hujan abu masih terjadi di Pos Pengamatan Ketep (Jawa Tengah) sekitar pukul 06.58 WIB.
Berdasarkan data pengamatan aktivitas seismik Gunung Merapi pada Senin pagi dilaporkan terjadi empat kali gempa vulkanik, delapan kali guguran dengan gempa tremor secara beruntun, namun tidak disertai luncuran awan panas.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, luncuran awan panas terjauh terjadi di Kali Gendol yaitu mencapai 14 kilometer, Kali Bebeng (11,5 kilometer), dan Kali Boyong (10 kilometer).
Sementara itu, jarak luncur awan panas ke sungai-sungai lainnya antara lima hingga delapan kilometer.
Luncuran awan panas terpendek terjadi di Kali Trising, Kabupaten Magelang (Jateng) sejauh tiga kilometer.
Badan Geologi juga telah mengubah radius rawan bahaya letusan Gunung Merapi untuk tiga kabupaten di Jateng, yaitu Klaten dan Boyolali menjadi 10 kilometer, dan Magelang sejauh 15 kilometer, sebelumnya sejauh 20 kilometer.
Sedangkan untuk Kabupaten Sleman (DIY) tetap dipertahankan pada radius 20 kilometer.
Namun demikian, Badan Geologi masih memberikan catatan bahwa untuk daerah yang berada dalam jarak 300 meter dari bibir Kali Krasak dan Kali Woro, tetap dalam radius 20 kilometer dari puncak Merapi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi telah memasang alat deteksi dini banjir lahar di tiga sungai yang berhulu di Gunung Merapi, yaitu Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong.
Sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20101115/tpl-titik-api-diam-merapi-terekam-cc08abe.html
Label:
Pengetahuan umum
Jumat, 12 November 2010
Tipe Letusan Merapi Berubah
Ia mengatakan tipe letusan Merapi mengalami perubahan dibandingan dengan letusan sebelum 2006 yang ditandai dengan adanya pembentukan kubah lava. "Saya hingga kini belum mengetahui penyebab mengapa tipe letusan Gunung Merapi berubah, namun perubahan tipe letusan seperti ini sering terjadi di sejumlah gunung berapi lainnya, salah satunya gunung berapi di Jepang, Miyake Jima," katanya, di Yogyakarta, Jumat.
Sebelumnya, Direktur Penerangan dan kebudayaan Besar Jepang di Indonesia Masaki Tani mengatakan tiga ahli vulkanologi asal Jepang akan membantu melakukan survei kondisi bencana letusan Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Tiga vulkanolog itu, yakni Kenji Nogami (ahli di bidang "volcanic chemistry"), Masato Iguchi (ahli di bidang "physical vulcanology"), dan Takayuki Kaneko (ahli di bidang "volcano geology"). Selain itu ada ahli di bidang penyakit saluran pernapasan Satoru Ishii.
"Kami akan terus memberikan pendampingan dari sisi keilmuan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral," kata Iguchi.
Gunung Miyake Jima di Jepang, kata dia, memiliki tipe erupsi yang sama yaitu meletus setiap 20 tahun sekali ditandai dengan keluarnya aliran lava, namun pada 2000 gunung tersebut meletus dengan membuat kaldera berdiameter satu kilometer, dan letusan besar dengan kolom asap setinggi 10 km.
"Perubahan itu disebabkan adanya pergerakan magma dalam volume yang cukup besar, namun belum bisa memastikan apakah hal itu juga terjadi di Gunung Merapi," kata Iguchi.
Mengenai pemasangan mikrofon infrasonik untuk Gunung Merapi, Icuchi mengatakan alat tersebut sangat efektif untuk memantau gunung ini karena terkadang puncak gunung ini diselimuti kabut, sehingga tidak terlihat adanya letusan, padahal kenyataannya gunung tersebut meletus.
Alat tersebut, kata dia akan dipasang di luar radius 20 kilometer dari puncak Merapi sesuai radius aman yang telah ditetapkan PVMBG, salah satunya di dekat Prambanan.
Tiga mikrofon infrasonik akan dipasang untuk mempertajam pantauan Gunung Merapi, sehingga PVMBG akan memperoleh gambaran aktivitas gunung itu lebih baik.
"Pengamat selama ini sering tidak mendengar letusan Gunung Merapi, meskipun sebenarnya gunung meletus sehingga dengan adanya mikrofon infrasonik maka akan diperoleh data lebih baik tentang letusan Merapi," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, mikrofon infrasonik tersebut akan mampu menangkap gelombang udara yang diakibatkan letusan Gunung Merapi dan pengamat tidak hanya mendasarkan pengamatan pada seismograf atau pengamatan visual. "Kami kemudian akan menganalisa data yang masuk sehingga memperoleh statistik yang baik tentang jumlah letusan Merapi," katanya.
Sumber: http://id.news.yahoo.com/antr/20101112/tpl-tipe-letusan-merapi-berubah-cc08abe.html Read More..
Label:
Pengetahuan umum
Selasa, 09 November 2010
Ensiklopedia Gunung Meletus
Letusan gunung berapi St Helens (AS)1980
Gunung meletus merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.
Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.
Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.
Berbagai Tipe Gunung Berapi
- Gunung berapi kerucut atau gunung berapi strato (strato vulcano)
- Gunung berapi perisai (shield volcano)
- Gunung berapi maar
Ciri-ciri gunung berapi akan meletus
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain- Suhu di sekitar gunung naik.
- Mata air menjadi kering
- Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
- Tumbuhan di sekitar gunung layu
- Binatang di sekitar gunung bermigrasi
Hasil letusan gunung berapi
Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain :- Gas vulkanik
- Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbonmonoksida (CO), Karbondioksida (CO2), Hidrogen Sulfide (H2S), Sulfurdioksida (S02), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayahan manusia.
- Lava dan aliran pasir serta batu panas
- Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.
- Lahar
- Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
- Abu letusan
- Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya.
- Awan panas
- Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.
Label:
Pengetahuan umum
Langganan:
Postingan (Atom)
